Orang harus merasa yakin pada diri sendiri, namun tidak boleh ada kemelekatan.
Diantara keduanya lebih baik tidak berkeyakinan dari pada tahyul, berkeyakinan yang harus keyakinan yang bijaksana.
Bila hati sedang tersesat akan merasa sangat menderita, menderita karena tidak mampu menentukan arah jalan hidup sendiri.
Orang dengan keyakinan yang bijak memahami secara mendalam semangat dharma buddha, orang yang tahayul menyalah-tafsirkan nilai kebaikan dari ajaran agama.
Orang memiliki kepercayaan yang benar, tidak akan terjadi penyimpangan dalam perjalanan hidupnya.
Ajaran agama yang benar berlandaskan hati yang benar, hati yang benar akan menguatkan tekad sehingga tidak akan di rasuki ajaran yang sesat.
Tahayul akan membuat hati penuh dengan kecurigaan, mempercayakan masa depan pada ramalan dan ahli nujum, dan tidak dapat benar benar mendalami kebenaran agama.
Ajaran buddha yang benar tidak membicarakan kontak batin, tidak membicarakan tentang kemampuan supranatural, satu-satunya yang ada di hati adalah sang buddha.
Keyakinan yang sejati seharusnya mempelajari ajaran buddha, bila hanya menyembah buddha saja, bukanlah mempelajari ajaran buddha, bukan penganut ajaran buddha yang benar.
Dalam kehidupan manusia hendaknya memohon agar memiliki niat yang benar, niat yang benar akan memperkuat tekad sehingga akan melancarkan segala usaha.
Ingin menyadarkan orang lain, harus membuat diri sendiri sadar terlebih dahulu, dengan merubah prilaku dan memberikan teladan yang baik, baru bisa mengubah seseorang menjadi lebih baik.
Orang yang memiliki berkah mendiami tempat yang penuh berkah, bukan tempat berkah dihuni oleh orang yang mempunyai berkah.
Bila ada tekad, kebijaksanaan akan tumbuh dengan sendirinya.